0 Bulan
0 Hari
0 Jam
0 Menit
0 Detik
MENUJU BULAN SUCI RAMADHAN 1447 H

Operasional Kantor Desa

🕒 JAM OPERASIONAL KANTOR DESA

Hari Jam Masuk Istirahat Jam Pulang
Senin–Kamis 08:00 12:00–13:00 16:00
Jumat 08:00 11:00–13:30 16:00

Jumat, 12 Desember 2025

Jangan Menuruti Emosi dan Hawa Nafsu

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang akan berhadapan dengan berbagai keadaan yang memancing emosi—baik marah, kecewa, iri, maupun sedih. Pada saat yang sama, hawa nafsu sering menggoda untuk mengambil keputusan yang salah, mengikuti keinginan sesaat tanpa memikirkan akibatnya. Islam mengajarkan bahwa salah satu ciri orang beriman adalah mampu mengendalikan diri, bukan dikendalikan oleh emosi maupun nafsu.

1. Emosi dan Nafsu adalah Ujian Keimanan

Allah SWT menciptakan manusia lengkap dengan akal dan nafsu. Nafsu tidak selalu buruk, tetapi ketika dibiarkan memimpin tanpa bimbingan akal dan iman, ia akan menjerumuskan. Karena itu Allah berfirman:

“Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surga-lah tempat tinggalnya.”
(QS. An-Nazi’at: 40–41)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa menahan nafsu adalah ibadah, bahkan dapat mengantarkan seseorang ke surga.

2. Marah: Pintu Besar Masuknya Setan

Rasulullah SAW sangat menekankan agar umatnya menjauhi sifat mudah marah. Beliau bersabda:

“Jangan marah.”
Beliau mengulanginya berkali-kali.
(HR. Bukhari)

Marah membuat seseorang berkata tanpa berpikir, membuat keputusan ceroboh, bahkan melukai orang lain. Kadang penyesalannya baru datang ketika keadaan sudah tidak bisa diperbaiki. Karena itu, orang yang mampu menahan marah disebut sebagai orang kuat yang sesungguhnya:

“Orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Cara Mengendalikan Emosi menurut Islam

Agar tidak dikuasai marah dan nafsu, Islam memberi tuntunan praktis:

a. Diam dan menahan lisan

Ketika emosi meningkat, diam adalah pilihan paling aman. Lidah bisa menjadi sumber dosa jika tidak dikendalikan.

b. Mengubah posisi

Rasulullah SAW mengajarkan:

  • Jika sedang marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah.
  • Jika masih marah, berbaringlah.

c. Berwudhu

Marah datang dari setan, dan setan tercipta dari api. Wudhu memadamkan panasnya amarah.

d. Mengingat ganjaran menahan nafsu

Setiap kali emosi memuncak, ingatlah bahwa Allah mencintai hamba yang bersabar dan menahan diri.


4. Bahaya Mengikuti Nafsu

Mengikuti nafsu tanpa kendali dapat menyeret seseorang pada berbagai dosa:

  • berkata kasar,
  • mengambil hak orang lain,
  • menuruti syahwat terlarang,
  • melakukan tindakan kekerasan,
  • membuat keputusan merugikan diri sendiri dan keluarga.

Nafsu selalu menghiasi keburukan seolah kebaikan. Karena itu Allah memperingatkan dalam Al-Qur’an bahwa nafsu cenderung menyuruh kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Allah.

5. Ketenangan adalah Buah dari Mengendalikan Emosi

Orang yang tidak cepat marah akan memiliki hati yang lapang, pikiran yang jernih, dan hubungan sosial yang baik. Ia tidak mudah tersinggung, tidak reaktif, dan tidak menjadi alat permainan setan. Hidupnya penuh keberkahan karena setiap langkahnya dipandu oleh akal dan iman, bukan emosi dan hawa nafsu.

Emosi dan hawa nafsu adalah fitrah manusia, tetapi jangan sampai menjadi penguasa diri. Pemimpin sejati adalah orang yang mampu memimpin hatinya. Setiap kali kita berhasil menahan emosi, itu adalah kemenangan yang nilainya lebih besar daripada mengalahkan musuh dalam peperangan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang sabar, tenang, dan mampu mengendalikan diri, serta menjauhkan kita dari perbuatan yang muncul dari kemarahan dan nafsu. Aamiin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No Hoax

⚠️ BIJAK BERMEDIA SOSIAL

Saring sebelum sharing.

Pastikan info Anda FAKTA & VALID .

Stop HOAX & ujaran kebencian.

Mengenai Saya