Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang akan berhadapan dengan berbagai keadaan yang memancing emosi—baik marah, kecewa, iri, maupun sedih. Pada saat yang sama, hawa nafsu sering menggoda untuk mengambil keputusan yang salah, mengikuti keinginan sesaat tanpa memikirkan akibatnya. Islam mengajarkan bahwa salah satu ciri orang beriman adalah mampu mengendalikan diri, bukan dikendalikan oleh emosi maupun nafsu.
Allah SWT menciptakan
manusia lengkap dengan akal dan nafsu. Nafsu tidak selalu buruk, tetapi ketika
dibiarkan memimpin tanpa bimbingan akal dan iman, ia akan menjerumuskan. Karena
itu Allah berfirman:
Ayat ini menjadi
pengingat bahwa menahan nafsu adalah ibadah, bahkan dapat mengantarkan
seseorang ke surga.
2. Marah: Pintu
Besar Masuknya Setan
Rasulullah SAW sangat
menekankan agar umatnya menjauhi sifat mudah marah. Beliau bersabda:
Marah membuat
seseorang berkata tanpa berpikir, membuat keputusan ceroboh, bahkan melukai
orang lain. Kadang penyesalannya baru datang ketika keadaan sudah tidak bisa
diperbaiki. Karena itu, orang yang mampu menahan marah disebut sebagai orang
kuat yang sesungguhnya:
3. Cara
Mengendalikan Emosi menurut Islam
Agar tidak dikuasai
marah dan nafsu, Islam memberi tuntunan praktis:
a. Diam dan menahan
lisan
Ketika emosi
meningkat, diam adalah pilihan paling aman. Lidah bisa menjadi sumber dosa jika
tidak dikendalikan.
b. Mengubah posisi
Rasulullah SAW
mengajarkan:
- Jika sedang marah dalam keadaan berdiri,
maka duduklah.
- Jika masih marah, berbaringlah.
c. Berwudhu
Marah datang dari
setan, dan setan tercipta dari api. Wudhu memadamkan panasnya amarah.
d. Mengingat
ganjaran menahan nafsu
Setiap kali emosi
memuncak, ingatlah bahwa Allah mencintai hamba yang bersabar dan menahan diri.
4. Bahaya Mengikuti Nafsu
Mengikuti nafsu tanpa
kendali dapat menyeret seseorang pada berbagai dosa:
- berkata kasar,
- mengambil hak orang lain,
- menuruti syahwat terlarang,
- melakukan tindakan kekerasan,
- membuat keputusan merugikan diri sendiri
dan keluarga.
Nafsu selalu menghiasi
keburukan seolah kebaikan. Karena itu Allah memperingatkan dalam Al-Qur’an
bahwa nafsu cenderung menyuruh kepada kejahatan, kecuali yang diberi
rahmat oleh Allah.
5. Ketenangan
adalah Buah dari Mengendalikan Emosi
Orang yang tidak cepat
marah akan memiliki hati yang lapang, pikiran yang jernih, dan hubungan sosial
yang baik. Ia tidak mudah tersinggung, tidak reaktif, dan tidak menjadi alat
permainan setan. Hidupnya penuh keberkahan karena setiap langkahnya dipandu
oleh akal dan iman, bukan emosi dan hawa nafsu.
Emosi dan hawa nafsu adalah fitrah manusia, tetapi jangan sampai menjadi
penguasa diri. Pemimpin sejati adalah orang yang mampu memimpin hatinya. Setiap
kali kita berhasil menahan emosi, itu adalah kemenangan yang nilainya lebih
besar daripada mengalahkan musuh dalam peperangan.
Semoga Allah
menjadikan kita hamba yang sabar, tenang, dan mampu mengendalikan diri, serta
menjauhkan kita dari perbuatan yang muncul dari kemarahan dan nafsu. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar